Sabtu, 03 Juni 2017

SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM



BAB 2
SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM
A.    Pendahuluan
Sebagai sumber ilmu, komunikasi Islam memiliki sumber utama yang sangat petensial untuk digali, yaitu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ilmu-ilmu pendukung untuk memahaminya, kitab-kitab para ulama baik yang lama maupun kontemporer juga banyak yang bisa menjadi bahan baku yang bisa diolah untuk membangun ilmu komunikasi Islam.
B.     SUMBER-SUMBER ILMU KOMUNIKASI ISLAM
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an ditinjau dari segi etimologis merupakan bentuk mashdar dari kata qara’a-yaqra’u-qira’atan-wa qur’anan. Kata qara’a berarti menghimpun dan menyatukan. Jadi menurut bahasa, Al-Qur’an adalah himpunan himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang menjadi satu ayat, himpunan ayat-ayat menjadi surat, himpunan surat menjadi mushaf Al-Qur’an. Al-Qur’an dengan akar kata qara’a, bermakna tilawah atau membaca. Jika dua makna bahasa ini dipadukan, maka Al-Qur’an artinya adalah himpunan huruf-huruf dan kata-kata yang dapat dibaca. Susunan ayat-ayat tersebut tidak hanya mengandung makna tetapi mengandung mukjizat yang tidak bisa ditandingi oleh apapun itu. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan abadi yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, maka Al-Qur’an didefinisikan sebagai:
“Firman Allah SWT yang menjadi mukjizat abadi pada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan kepada Rasulullah SAW yang tertulis dalam mushaf, diturunkan kegenerasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar.
Definisi diatas mengandung lima makna penting:
1. Al-Qur’an adalah firman Allah SWT (QS. An-Najm (53): 4) Yang Maha mulia dan Maha Agung. Kedudukan firman-Nya yang mulia dan agung menjadikan kita harus memperlakukannya dengan mulia juga. Karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang Mulia, maka menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama komunikasi Islam akan membuat ilmu ini menjadi ilmu yang mulia.
2. Al-Qur’an adalah mukjizat, tidak ada kata dan bacaan yang mampu menandinginya. Menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu komunikasi Islam akan membuat teori-teori ilmu ini menjadi kukuh.
3. Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu kedalam hatinya melalui malaikat jibril a.s (QS. 26: 1920. Allah memilih hati Nabi Muhammad karena dianggap yang paling layak untuk ditempati Al-Qur’an yang suci.
4. Al-Qur’an disampaikan secara mutawatir. Al-Qur’an dihafal dan ditulis oleh banyak sahabat sehingga mustahil terjadi persekongkolan adanya penambahan atau pengurangan dalam teksnya. Lalu, secara turun temurun Al-Qur’an itu diajarkan kepada generasi berikutnya dari orang banyak ke orang banyak.
5. Membaca Al-Qur’an bernilai ibadah, bahkan setiap huruf diganjar oleh Allah dengan sepuluh kebaikan.

Sebagai sumber yang autentik dan isinya yang mengandung mukjizat, maka Al-Qur’an adalah kitab yang paling layak untuk menjadi sumber utama ilmu komunikasi Islam dan sangat potensial memberikan kontribusi positif dalam perkembangan ilmu komunikasi secara umum.
FUNGSI Al-Qur’an
1. Al-Qur’an sebagai Huda  (petunjuk)
Manusia disiapkan oleh Allah untuk hidup didunia dalam tempo relatif lama. Usia rata-rata umat Nabi Muhammad berkisa 60 sampai 70 tahun dan tidak banyak yang melampaui usia tersebut. Karena rentang waktu yang cukup lama itu, maka Dia Yang Maha Tahu, Maha Bijak dan Maha Kasih menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pemandu.
Fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk disebutkan banyak sekali dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal soleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. (QS. al-‘Israa’ (17): 9)
Al-Qur’an seolah-olah GPS yang berfungsi memandu manusia dalam perjalanan mengarungi kehidupan agar sampai ketujuan dengan selamat.
Sejak diciptakan manusia pertama, Adam ‘alaihissalam, Allah SWT telah membekali beliau dengan modal untuk berkomunikasi. Modal yang diberikan oleh Allah kepada Adam adalah asma (kosakata) yang merupakan modal dasar manusia untuk berkomunikasi. Allah SWT berfirman:
Dan Dia Allah (Allah SWT) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah-Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS.al-Baqarah (2): 31-33)
Sejak berada dalam kandungan, disaat usia manusia berumur empat bulan, manusia sudah berkomunikasi dengan Allah Sang Penciptanya. Inti dari komunikasi ini adalah megenalkan kepada semua manusia yang akan hidup dibumi bahwa yang menciptakan, memelihara, dan memperhatikan mereka sejak dalam kandungan sampai mereka meninggal adalah Rabb dan peran-Nya dalam mengatur segala urusan mereka. Komunikasi perdana ini disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
Dan (ingatlah), ketika Rabb (Tuhan), mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan : “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS.al-A’raaf (7): 172)
Karena itu, selain diperintahkan untuk selalu berkomunikasi dengan Allah yang menciptakannya, Dia juga memerintahkan agar manusia membangun komunikasi dengan keluarga mereka. Membangun komunikasi dengan pihak keluarga di dalam Islam dikenal dengan istilah silaturahmi. Allah SWT berfirman:
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (perihalah) hubungan silaturahmi. Sesunguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS.an-Nisaa’ (4): 1).
Orang yang paling dekat dan menjadi prioritas utama manusia dalam berkomunikasi adalah orang tua. Manusia diperintahkan untuk berkata santun, tidak boleh kasar, merendahkan diri di hadapan keduanya, dan mendoakan keduanya agar selalu diampuni Allah dan selalu mendapatkan rahmat dari-Nya. Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan”ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS.al-“Israa’ (17): 23-24).
Selain membangun komunikasi dengan Allah dan keluarga dekat, allah juga memerintahkan manusia untuk meluaskan ruang lingkup komunikasi kita dengan orang-orang yanng yang hidup disekitar kita, baik anak-anak yatim dan orang miski yang ada disekitar kita, tetangga dekat, tetangga jauh, dengan teman-teman sejawat, bahkan dengan para pendatang yang mungkin tidak kita kenal sebelumnya. Allah berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-keabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”.(QS.an-Nisaa” (4): 36).
Bahkan Allah menyatakan bahwa diantara tujuan keberadaan manusia di muka bumi ini adalah untuk saling membangun komunikasi dengan seluruh manusia, tanpa membedakan ras, suku, warna kulit, bangsa, dan lain-lain.
2. Al-Qur’an sebagai Furqan
3. Al-Qur’an sebagai Syifa’
4. Al-Qur’an sebagai rahmat.
Sumber dan referensi
Untuk membantu kita memahami makna Al-Qur’an, terutama tentang komunikasi maka kita harus merujuk kepada para uama yang pakar di bidang tafsir dan ulum Al-Qur’an.
Ayat-ayat yang Terkait dengan Komunikasi
1. Ayat tentang Hiwar dan jidal
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan, Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.al-Mujaadilah (58): 1)
2. Ayat tentang Bayan
“(Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarkannya pandai berbicaara”. (QS.ar-Rahmaan(55): 1-4)
3. Ayat tentang Tadzkir
“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat”. (QS.al-A’la (87): 9)
4. Ayat tentang Tabligh
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (QS. al-Ma’idah(5): 67)
5. Ayat tentang Busyra
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus (10): 62-64)
6. Ayat tentang Indzar
“Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringaatan.” (QS.ar-Ra’d) (13): 7)
7. Ayat tentang Ta’aruf
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesunggguhnya orang yang palinng mulia di antara kamu di sisi allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.al-Hujurat (49): 13)
8. Ayat tentang Tawashi
“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: jawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS.al-Baqarah (2): 133)
2. As-Sunnah
Definisi As-Sunnah
Ulama Hadis sepakat bahwa arti dasar kata as-Sunnah yang berkaitan erat dengan Hadis berkisar pada dua makna berikut:
1.      Al-Sirah au al-Thariqah, Hasanah am Sayyiah. Sirah dan thariqah yang berarti jalan kehidupan atau metode, yang baik ataupun yang buruk.
2.      Al-Thariqah al-mahmudah al-mustaqimah Al-thariqah al-mahmudah al-mustaqimah, yaitu jalan kehidupan atau metode yang lurus dan terpuji.
Pada dasarnya, kedua makna ini sama, tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya berbeda dari sudut pandang. Makna pertama adalah makna umum yang mencakup segala bentuk jalan kehidupan, cara/metode yang baik ataupun yang buruk. Adapun makna kedua memiliki pengkhususan hanya pada hal-hal bersifat baik dan terpuji saja.
Fungsi Sunnah
Fungsi Sunnah adalah sebagai tafsir bagi Al-Qur’an, mengungkap rahasia yang dikandungnya, dan menjelaskan kehendak AllahSWT dalam perintah-perintah-Nya atau larangan-larangan-Nya. Al-Qur’an sangat membutuhkan Sunnah, karena tanpa Sunnah bayak ayat-ayat Al-Qur’an yang sulit untuk dipahami, dan tidak bisa dimengerti maksudnya, tetapi tidak demikian sebaliknya, karena walaupun tanpa Al-Qur’an as-Sunnah sudah bisa dipahami dengan sendirinya. Imam Al-Darimi meriwayatkan bahwa Al-‘Awza’i, Mahkul, dan Yahya bin Katsir berkata:
“Al-Qur’an lebih memerluka Sunnah dari Sunnah memerlukan Al-Qur’an. As-Sunnah berfungsi membuat ketetapan terhadap A-Qur’an, tetapi tidak sebaliknya, Al-Qur’an tidak bisa menetapkan keputusan terhadap Sunnah.

Sunnah berdasarkan definisi etimologi, terminologi, dan fungsi sebagaimana disebutkan diatas bisa diibaratkan sebagai pemandu teknis dan peretas jalan. Rasulullah adalah peretas jalan dan pemandu bagaimana menerapkan nilai-nilai A-Qur’an dalam kehidupan nyata.
Komunikasi yang dibangun oleh Nabi dengan keluarganya, teman dekatnya, dan dengan seluruh manusia adalah bahan baku yang sangat kaya untuk dikembangkan menjadi kajian Ilmu komunikasi dalam Islam. Dengan penegasan A-Qur’an dan Hadis seperti diatas, maka menjadikan Al-qur’an dan Sunnah sebagai sumber ilmu komunikasi Islam bagi kaum Muslimin adalah sebuah keharusan.
Sumber dan Referensi
Untuk membantu memahami makna dan kualitas Hadis kita juga harus merujuk kepada para pakar di bidang Hadis. Diantara kitab yang paling sering dijadikan dalam bidang Hadis Adalah:
1. Shahih al-Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Dawud
4. Sunan al-Nasa’i
5. Sunan Tirmidzi
6. Sunan Ibnu Majah.

Kitab-kitab Para Ulama
Selain Al-Qur’an dan Hadi, ilmu pengetahuan Islam secara umum dan ilmu tentang akhlak dan adab secara khusus sangat kaya dengan bahan yang dikembangkan untuk memperkaya bangunan ilmu Komunikasi Islam.
Diantara kitab-kitab yang sangat bermanfaat untuk dijadikan sumber dan referensi adalah:
1. Kitab Ijya Ulumuddin
2. Minhaj al-Qashidin
3. Riyadhus Shalihin
4. Kitab Afat al-Lisan fi Dhau Al-Qur’an wa As-Sunnah
5. Adab al lisan karya Anas Majid al-Nabkani
Ilmu Komunikasi
Ilmu Komunikasi pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Yang membedakannya adalah pada objek kajiannya, dimana perhatian dan telaah difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antarmanusia. Mengenai hal itu Berger & Chafee (1987) menyatakan bahwa ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.
Pikiran diatas memberikan tiga pokok pikiran utama:
1. Objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.
2. Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bebtuk teori-teori) harus berlaku umum.
3. Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses, dan dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang.

Sehingga secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses, dan pengaruhnya yang dapat dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan.
Ilmu komunikasi dengan karakteristiknya seperti diatas sangat bermanfaat dalam membangun ilmu komunikasi Islam. Banyak hal yang bermanfaat telah disumbangkan oleh ilmu komunikasi terutama dalam kajian empiriknya. Karena pertimbangan itulah, dalam membangun ilmu komunikasi Islam kita sangat memerlukan ilmu komunikasi umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar