Sabtu, 03 Juni 2017

Pengertian, Ruang Lingkup, Dan Manfaat Mempelajari Komunikasi Islam




BAB 1
PENGERTIAN, RUANG LINGKUP, DAN MANFAAT MEMPELAJARI KOMUNIKASI ISLAM
A.    DEFINISI KOMUNIKASI ISLAM
1. Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari bahasa Inggris communication. Diantara arti komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda, atau tingkah laku. Komunikasi juga diartikan sebagai cara untuk mengomunikasikan ide dengan pihak lain, baik dengan berbincang-bincang, berpidato, menulis, maupun melakukan korespondensi.
Dalam bahasa Arab, komunikasi sering menggunakan istilah tawashul dan ittishal. Ketika mendefinsikan tentang komunikasi, Awadh mengatakan bahwa komunikasi (ittishal) adalah melakukan cara yang terbaik dan menggunakan sarana yang terbaik untuk memindahkan informasi, makna, rasa, dan pendapat kepada pihak lain dan mempengaruhi pendapat mereka serta dengan menggunakan bahasa atau dengan yang lainnya.
washala” yang artinya sampai, tawashul artinya adalah proses yang dilakukan oleh dua pihak untuk saling bertukar informasi sehingga pesan yang disampaikan dipahami atau sampai kepada dua belah pihak yang berkomunikasi. Jika komunikasi hanya terjadi dari satu arah tidak bisa dikatakan tawashul.
Adapun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunikasi diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Dr. Halah al-Jamal mengatakan bahwa komunikasi adalah upaya manusia untuk menampilkan hubungan yang terbaik dengan pencipta-Nya, dengan dirinya, dan dengan sesama manusia.
Dalam buku Sasa Djuarsa Sendjaja yang berjudul Pengantar Ilmu Komunikasi dijabarkan tujuh definisi. Definisi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan megubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak)
2.      Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dan lain-lain.
3.      Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa?
4.      Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari yang semula dimiliki oleh seseorang (memonopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih.
5.      Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.
6.      Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian lainnya dalam kehidupan.
7.      Komunikasi adalah seluruh prosedur melalui mana pikiran orang lainnya.
Stewart L. Tubbs dalam bukunya Human Communication merangkum arti komunikasi dengan mengatakan bahwa komunikasi secara luas didefinisikan sebagai “berbagi pengalaman”. Namun komunikasi tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga membagi pengalaman. Berbagi pengalaman artinya berbagi informasi tentang pengalaman yang didapat olrh masing-masing pihak yang berkomunikasi. Berbagi pengalaman diambil dari kata tawashul (saling tersambung) yang merupakan model komunikasi dua arah atau lebih. Selain berbagi pengalaman, komunikasi juga berarti membagi pengalaman. Membagi pengalaman diambil dari kata ittishal yang merupakan salah satu model komunikasi satu arah. Selain membagi dan berbagi pengalaman, definisi komunikasi juga tidak boleh mengabaikan aspek pengaruh komunikasi saat proses berbagi pengalaman berlansung. Orang yang sedang bimbang untuk memutuskan sesuatu karena dihadapkan dengan berbagai pilihan akan merasa lebih mantap untuk memutuskan sesuatu kalau mendengar teman berkomunikasinya menyampaikan tentang pengalaman kesuksesannya dalam menghadapi masalah yang hampir sama dengan masalah yang sedang dia hadapi. Komunikasi juga membantu seseorang untuk bertindaklebih efektif. Orang yang membagikan pengalaman hidupnya kepada temannya bisa membuat temannya terpengaruh untuk mengikuti jejak temannya yang menceritakan. Berdasarkan paparan diatas bahwa komunikasi adalah proses berbagi dan membagi pengalaman dengan tujuan saling memengaruhi.
2. Definisi Islam
Kata Islam dalam buku al-Ta’rifat karya al-jurjani diartikan sebagai kerendahan dan ketundukan terhadap apa yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW. Makna Islam menurut al-jurjani ini mengacu kepada makna bahasa. Abdul Karim Zaidan dalam Ushul al-Dakwah memaparkan banyak sekali tentang Islam. Diantara definisi Islam menurut beliau:
1.      Islam adalah brsyahadat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji, sebagaimana yang terdapat dalam hadis jibril. Ketika Rasulullah ditanya Jibril tentang Islam, beliau menjawab:
“Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku apakah Islam itu? Rasulullah menjawab: “Islam adalah engkau bersyahadat bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, engkau mendirikan sholat, engkau membayar zakat, engkau berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan haji jika mampu.
Definisi pertama ini memotret Islam dari sisi amalan utama atau lima rukun utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh orang yang memeluk agama Islam. Karena pilar utama Islam adalah lima rukun diatas, maka Islam diidentikkan dengan rukun Islam.
2.      Definisi kedua, Islam adalah kerendahan, penyerahan diri, dan ketundukan kepada Allah Robbul Alamin. Ketundukan ini diisyaratkan harus dalam bentuk pilihan bukan karena terpaksa, yaitu ketundukan kepada Allah di segala bidang. Definisi yang kedua ini mirip dengan definisi yang diberikan oleh al-jurjani, yaitu definisi Islam dengan pendekatan bahasa. Ketika kata Islam dihubungkan dengan din yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT, maka definisi Islam adalah ketundukan atas dasar sukarela kepada Allah Robbul Alamin. Bukti ketundukan itu terwujud pada kepatuhan terhadap syariat Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Islam dalam arti ketundukan dapat ditemukan dalam firman Allah:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali Imran(3): 19)
Definisi kedua ini memotret Islam dari akar katanya. Definisi ini penting diketahui untuk mengetahui roh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Roh Islam adalah ketundukan kepada Allah dan apa yang diperintahkan Allah.
3.      Definisi ketiga, Islam adalah sistem umum dan peraturan lengkap tentang urusan kehidupan, serta panduan meniti kehidupan dan segala konsekuensi dari penerimaan atau penolakan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT.
Islam dalam definisi Islam ini dipahami sebagai paket lengkap tentang segala urusan kehidupan dan konsekuensi menolak paket yang ada. Definisi ini menekankan bahwa orang yang menerima Islam secara parsial dan tidak lengkap sebenarnya belum berislam dengan sebenarnya. Definisi Islam seperti ini merupakan hasil dari pemahaman yang mendalam tentang firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS.al-Baqarah (2): 208).
4.      Definisi keempat, Islam adalah kumpulan seluruh nilai yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada seluruh manusia, baik hukum akidah, akhlak, ibadah, muamalat, serta berita-berita yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Definisi ini mirip dengn definisi ketiga, tetapi definisi keempat ini menambahkan bahwa Islam tidak hanya menjelaskan tentang aturan kehidupan tetapi juga informasi-informasi atau berita-berita yang diperlukan dalam kehidupan manusia.
Definisi ketiga dan keempat tentang Islam bisa dipahami dari firman Allah:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(QS. Al-Ma’idah (5): (3).
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan, jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampakan amanat-Nya”. (QS. Al-Ma’idah (5): 67).
5.      Definisi kelima, Islam adalah jawaban yang benar dan tepat untuk menjawab tiga pertanyaan prinsip yang selalu menyibukkan akal manusia dan selalu muncul dalam pikiran mereka sepanjang masa: dari mana kita berasal, untuk apa kita hadir dimuka bumi ini, dan kemana tempat kembali? Untuk perttanyaan pertama Islam menjawabbahwa manusia berasal dari Allah yang menciptakan manusia dari dua perpaduan utama yaitu jasad dan ruh. Jasad kita diciptakan dari tanah dan sari pati tanah serta roh berasal dari Allah SWT. Dua perpaduan ini membuat manusia memiliki dua kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan jasad dan kebutuhan ruh. Allah SWT berfirman:
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia diciptakan sebaik-baiknya  dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudia Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS. As-Sajadah (32): 7-9)
Tentang pertanyaan kedua, apa tujuan manusia hidup di dunia ini, Islam menjawab bahwa tujuan utama hidup manusia di muka bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Karena tujuan utama hidup adalah, maka seluruh aktifitas manusia tidak boleh keluar dari tujuan utama tersebut. Allah SWT berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (adz-Dzariyat(51): 56).
Adapun pertanyaan ketiga, kemana kita akan kembali, islam menjawab bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan abadi di akhirat, dan manusia akan menempati salah satu dari dua tempat yang disediakan untuk mereka, yaitu surga buat yang beriman dan beramal soleh selama di dunia, dan neraka untuk yang kufur dan melanggar aturan-aturan Allah. Allah berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Jatsiyah (45): 15)
Definisi kelima ini memotret Islam dari hakikat manusia. Definisi ini juga sangat membantu kita untuk memahami bahwa ajaran Islam adalah benar-benar untuk manusia.
6.      Definisi keenam, Islam adalah roh yang sebenarnya bagi manusia, cahaya dalam meniti jalan, obat segala penyakit, dan jalan yang lurus yang akan memberikan keselamatan bagi penggunanya. Untuk makna ini Allah SWT berfirman
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan, sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (QS.as-Syuara (42): 52-53)
Islam menurut bahasa secara umum artinya adalah tunduk, menyerahkan diri kepada Allah, damai, serta selamat. Damai dan selamat adalah tujuan, sedangkan sarananya adalah tunduk dan menyerahkan diri dengan seluruh aturan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan yang paling pokok diantaranya adalah rukun Islam.
3. Makna Komunikasi Islam
Setelah mengetahui definisi komunikasi dan definisi Islam, dapat diketahui secara jelas bahwa yang dimaksud dengan komunikasi Islam adalah komunikasi yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam yang memiliki roh kedamaian, keramahan, dan keselamatan.
Berdasarkan informasi dari Al-Qur’an dan As-Sunnah ditemukan bahwa komunikasi Islam adalah komunikasi yang berupaya untuk membangun hubungan dengan diri sendiri, dengan Sang Pencipta, serta dengan sesama untuk menghadirkan kedamaian, keramahan, dan keselamatan buat diri dan lingkungan dengan cara tunduk dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Tindakan apapun dalam komunikasi yang membuat hati seseorang menjadi rusak atau hati menjadi sakit atau luka bertentangan dengan roh komunikasi dalam Islam.
B.     RUANG LINGKUP KAJIAN KOMUNIKASI ISLAM
Objek kajian ilmu komunikasi Islam terdiri dari tiga paket kajian yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Tiga paket kajian itu adalah komunikasi manusia dengan Allah, komunikasi manusia dengan dirinya sendiri, dan komunikasi manusia dengan yang lainnya. Tiga bentuk komunikasi ini merupakan warisan dari ajaran agama secara universal.
Tiga bentuk komunikasi diatas tergambar dalam atsar dari Wahab bin Munabbih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal berikut ini:
“Dari Wahab bin Munabbih, beliau berkata: Tertulis dalam hikmah Dawud: “Sangat pantas bagi orang yang berakal untuk tidak lalai dari siang nya: waktu untuk bermunajat kepada Tuhan-Nya, waktu untuk mengevaluasi dirinya, waktu berkumpul dengan teman-teman yang bisa memberikan nasihat dan menunjukkan kekurangannya, dan waktu untuk santai yang halal dan baik.
C.    MANFAAT MEMPELAJARI ILMU KOMUNIKASI ISLAM
Sebagai salah satu sisi dalam kehidupan manusia, aktifitas komunikasi itu dikatakan akademisi sebagai aktifitas vital dalam kehidupannya. Astri Soesanto mensinyalirnya sebagai aktifitas yang dilakukan manusia sebanyak 90% dalam kehidupannya sehari-hari. Cangara menyimpulkan penilaian dari banyak pakar mengatakan bahwa komunikasi adalah sebagai suatu kebutuhan yang fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Menurut Scram komunikasi dan masyarakat merupakan dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.
Karena pentingnya komunikasi tersebut, Islam yang mengusung prinsip “kafah” atau komprehensif dalam ajarannya tidak membiarkan umat yang meyakininya berkomunikasi tanpa Panduan.
Kehadiran ilmu komuniksi Islam bertujuan untuk membimbing kaum Muslimin secara khusus dan manusia secara umum agar mampu membangun komunikasi kepada Pencipta mereka, dengan diri sendiri, serta dengan sesama berdasarkan prinsip-prinsip Islam.
Komunikasi yang terjalin dengan prinsip komunikasi Islam akan menghadirkan kedamaian dan keselamatan, baik untuk diri komunikan maupun masyarakat secara umum. Jika umat Islam melakukan komunikasi dengan niat ikhlas untuk menjalin silaturahmi dan meningkatkan kualitas hubungan positif dengan sesama manusia, maka mereka tidak hanya mendapatkan keuntungan dunia, tetapi juga akan mendapatkan pahala akhitar.

dikutip dari buku Komunikasi Islam Dr. Harjani Hefni, Lc., M.A.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar