Penulis oleh: muliana mahasiswa kpi
Bubbor Paddas (Rajanya
Bubur Kota Sambas Terigas)
Terlahir di tanah Sambas
menjadi suatu kebanggaan dalam hidup saya. Bagaimana tidak kota Sambas yang
memiliki alam, kerajaan, budaya, bahasa dan kuliner, tentunya memiliki cerita
unik dan menarik dibaliknya. Indahnya kampung kelahiranku bagaikan sepotong
syurga yang Allah titipkan yang harus di jaga. Dan Salah satu makanan yang
melegendaris dibumi Sambas yang selalu terbayang dalam fikiran saya ialah
buburnya.
Siapa
yang tidak kenal dengan nama bubur yang menjadi ikon makanan khas kota Sambas
terigas. Yapsss bubur pedas. Masyarakat kami Sambas memangilnya “Bubbor Paddas”
karena keunikan dari bahasa Melayu Sambas adalah pengucapan huruf ganda. Bubur
pedas jika dibayangkan pasti dalam fikiran orang-orang yang belum pernah
melihat dan mencobanya akan mengarah pada sebuah mangkok bubur yang pastinya
dengan rasa yang sangat pedas. Dan bagi kalian yang baru melihat tapi belum
mencoba jangan tertipu dengan penampilannya yang amburadul alias berantakan tapi
kalau soal rasa beuhhhhh mantep deh pokoknya. Bubur pedas ini merupakan makanan
khas Suku Melayu Sambas, Kalimantan Barat. Berasal dari kata bubur dan pedas,
makanya bubur ini identik dengan rasa pedas dan hangat. Namun, rasa pedas yang
dimaksud bukan berasal dari cabe, melainkan dari bahan-bahan rempah yang menghangatkan.
Bahan
utama membuat bubur pedas adalah midding (pakis), kacang panjang, kangkung,
kecambah, rabbong (rebung), bandong (ubi kayu), serai, jahe, daun kesum, daun
kunyit, daun lengkuas, daun cakkor (kencur) dll. Sedangkan bumbu rempah adalah
beras, lada hitam, ketumbar, cabe kering, bawang merah, bawang putih dan
macam-macam bumbu lain. Semua bahan aneka sayur daun dipotong kecil-kecil.
Sebenarnya apabila mengikut resep aslinya jumlah sayur-mayur nya bisa mencapai
40 macam. Inilah sebabnya bubur ini dijuluki rajanya bubur karena begitu banyak
bahan-bahan untuk membuatnya. Karena saya juga pernah membuatnya berikut saya
ajarkan cara memasaknya:
Yang
pertama, beras disangrai bersama lada hitam, ketumbar, daun salam, dan cabe
kering. Setelah beras menguning barulah ditambah parutan kelapa. Nah setelah
itu beras di haluskan terserah mau dihaluskan dengan cara diblender atau
ditumbuk.
Yang
kedua panaskan air, rebus bumbu beras yang sudah halus hingga menjadi bubur.
Ketiga masukkna ubi jalar, kacang panjang dan sayuran lainya menyesuaikan
tingkat kematangan sayurnya. Lalu bubur diberi perasa seperti garam, micin
terasi dan perasa lainnya. Bubur pedas
ini disajikan dengan tambahan ikan teri goreng, kacang tanah goreng, cabe,
kecap dan jeruk kunci. Aroma bubur pedas ini sangat khas. Ketika kita mencium
ada aroma daun yang sangat menonjol dan daun tersebut tidak boleh terlewatkan
dalam campuran bahannya yaitu “daum kesum” atau dalam bahasa indonesia daun
laksa daun inilah yang memberikan aroma khas yang sedikit menyegat dan rasa
sedikit asam didalam bubur pedas.
Dan
dikalangan masyarakat kami Sambas, daun kesum memiliki sejarah dalam cerita
bubur pedas. Saya kutipkan dari situs majlis adat budaya melayu kalimantan
barat yang ditulis oleh Sabhan Rasyid
Konon
nih ceritanya, pada beberapa ratus tahun lalu hiduplah sebuah kerajaan di
Sambas suatu hari raja sedang sakit dan terbaring lemah dikamarnya. Nafsu makan
raja menjadi menurun bahkan menghilang. Semua masyarakat sangat menghawatirkan
sang raja. Sang raja pun memerintahkan seorang pembantu yang bertugas sebagai
juru masak kerajaan untuk membuatkan makanan untuknnya. Pembantu tersebut
kemudian meracik beras dan sayur-mayur untuk dijadikan makanan untuk sang raja.
Selesai mengolah, pembantu segera menyerahkan hasil masakannya kepada raja.
Sungguh sangat tak disangka, raja sangat menyukainya dikarenakan ia mencium
aroma daun yang sangat khas dalam bubur tersebut. Selesai bubur habis raja
menyuruh pengawal untuk memangggil pembantu yang telah berhasil membuatkan
bubur yang sangat enak. Pembantu pun menghadap raja. Ada apa gerangan raja
memanggil saya?”tanya pembantu tersebut. Raja kemudian menanyakan tentang sebuah daun yang dirasakan
sangat khas dan begitu enak.”daun apakah yang kau gunakan dalam bubur tersebut
hinga membuat nafsu makan saya muncul ketika mencium aroma daun tersebut. Hamba
menemukan tanaman tersebut di pekarangan istana ini, tapi hamba tidak tahu apa
naman tanaman tersebut, jawab pembantu. Kemudian raja menanyakan nama pembantu
tersebut. “siapa namamu wahai pembantu?”tanya raja. Nama hamba Kasum, biasa
orang-orang memanggil hamba dengan Mak Kasum,”. Berfikirlah raja kemudian
memberi nama daun khas yang belum diketahui namanya dengan daun kasum
menyesuaikan dengan nama Mak Kasum. Cerita ini mengisahkan tentang suatu kejadian
dibumi Sambas tentang hubungan Mak Kassum dengan bubur padas. Pada dasarnya ini
merupakan cerita rakyat yang bersifat anoni (pengarangnya tidak dikenal), yang
diceritakan turun-temurun melalui lisan masyarakat Sambas. Hingga sekarang daun
kasum merupakan daun yang wajib ada saat membuat bubur pedas kalau tidak menggunakan
daun kasum itu bukan bubur pedas namanya menurut orang-orang Sambas.
Mengingat
daun kesum merupakan daun yang wajib ada mengingatkan saya pada saat pertama
kali mengenal bubur pedas.
Masih
melekat di memori otakku waktu[WU1] itu minggu pagi
ibu saya meminta saya untuk menemaninya mencari sayur midding (pakis) untuk
dijadikan bubur pedas. Ayo cepat ganti pakaian kamu dengan yang biasa-biasa
saja” ujar ibu saya. Jangan lupa pakai topi dan sepatu bot karna kita akan ke
hutan dan jangan lupa bak untuk dijadikan tempat sayur nanti” tambah ibu saya. Ok
siap mak” selesai berpakaian Kami pun mulai berjalan menuju semak-semak dan
kurang lebih 15 menit perjalanan kami sampai dan menemukan midding (pakis) yang
sangat banyak dan berwarna hijau kemerahan. Sembari memetik midding saya pun
mulai kepikiran bubur pedas itu seperti apa ya?” bergumam dalam hati. Saya pun
bertanya bubur pedas itu bubur apa mak pasti pedas tegas saya. Tidak juga
terlalu pedas cuman ada salah satu daun dan rempah-rempah yang membuat bubur
itu menjadi hangat dan pedas. Ooo begitu ya Setelah selesai mencari midding
(pakis) ibu mengajak saya mencari bermacam-macam daun seperti: daun kunyit,
daun cakkur (kencur), daun singkil, daun cangkok manis (katuk), serai, jahe
pokoknya lengkap deh hehe. And then cuman ada satu lagi nih daun yang ktia
tidak punya “ujar ibu saya. Daun apa itu mak? Penasaran. Daun kassum tambah ibu
saya. Gimana itu bentuk daunnya bertanya lagi karena penasaran. Bentuk
batangnya silinder halus, berwarna hijau dan sedikit merah dan ia juga memiliki
bunga yang berwarna putih keungu-unguan jawab ibu saya. Setelah selesai mencari
semua bahan sayur kami pun lansung pulang untuk segera membuatnya. Pokoknya
nanti kamu minta sama wan appet (tetangga saya) yang menanam daun tersebut.
Selesai mandi saya pun lansung ke rumah wan appet untuk memita sedikit daun kesum
sebagai tambahan bubur yang akan kami buat. Menggunakan sepeda mini saya pergi
kerumah wan appet. Begitu sampai dirumahnya assalamualaikum wan ada daun kesum
tidak kami boleh minta sedikit, ooo ada saya pun dibawa ke kebun dibelakang
rumah nya dan ternyata benar apa yang dibilang ibu saya daun kesum ketika saya
petik benar-benar berbau yang sangat khas begitu saya rasa ada rasa pedas dan
agak sedikit pedas di lidah saya pun memetik daunnya kira-kira dua genggam
tangan saya dan lansung pulang untuk segera memasaknya. Hehe itulah cerita
pertama kali saya tau bubur pedas dan daun kesum.
Bubur
pedas biasanya disajikan saat acara kumpul keluarga, sarakalan, tepung tawar,
selamatan, menyambut tamu, bulan Ramadhan dan acara lainya dan bubur pedas ini
bebas dibuat kapan saja tidak harus menunggu hari-hari tertentu. Dan tidak
perlu diragukan lagi bubur pedas memiliki gizi yang sangat tinggi. Dikarenakan
kandungan aneka sayur dan bahan-bahan rempah-rempah yang ada didalamnya. Dan
tidak heran ketika bulan puasa bubur ini selalu ada saat bulan Ramadhan sebagai
menu berbuka untuk mengembalikan kebutuhan nutrisi tubuh yang lemas ketika
seharian berpuasa.
Bahkan
bubur pedas sambas ada lagu nya juga
Lirik
lagu nya kira-kira seperti ini
Oi
biak oi biak
Carrat
ke makan bur paddas
Lakkaslah
oi ke darat
Kittak
carek sayorannye
Kak
amox kak alang
Yang
udah ngarok barasnya
Kamek
nang di rumah
Tinggal
agek masakekeeng
Simpor
midding pakok kulat
Daon
kasum sumenye ade
Simpor
midding pakok kulat
Daon
kasum sumenye ade
Tapox
an impusok
Alangke
sadapnye
Bubor
paddas kebanggaan urang Sambas
Nah
itulah kira-kira lirik lagunya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar